Senin, 22 April 2013

Profil Sawahlunto


LATAR BELAKANG HISTORIS
Kota Sawahlunto berkembang dari sebuah kawasan hutan belantara di Bukit Barisan, Sumatera Barat, menjadi sebuah kota tambang batubara yang dikenal hingga saat ini. Menurut hikayat masyarakat Kota Sawahlunto, penemuan batubara di kawasan ini terjadi secara kebetulan. Penemuan batubara diawali oleh misi pencarian orang Belanda yang hilang terbawa arus ketika berperahu menyusuri Sungai Ombilin. Pada saat pencarian itulah muncul kejelian orang-orang Belanda dalam memperkirakan adanya kandungan batubara di daerah ini.
Pada tahun 1867, Willem Hendrik de Greve, seorang geolog berkebangsaan Belanda, menemukan cadangan batubara di sepanjang alur Sungai Ombilin. Dengan ditemukannya cadangan batubara itu maka pada tahun 1887 Pemerintah Kolonial Belanda mulai membangun infrastruktur untuk menunjang kegiatan penambangan batubara berupa jalur kereta api dan pelabuhan laut di daerah Padang (Teluk Bayur). Pada tahun 1892, produksi batubara pertama di Ombilin Sawahlunto mulai berjalan. Karena beratnya kondisi pertambangan pada saat itu, Pemerintah Kolonial Belanda mulai mendatangkan orang-orang dari luar Sawahlunto sebagai pekerja tambang. Banyak dari mereka yang didatangkan adalah tawanan pemerintah kolonial sehingga kondisi mereka saat bekerja ada dalam kondisi dirantai – sehingga dari situlah muncul istilah ‘orang rantai’. Di kemudian hari, orang-orang itu membentuk kultur masyarakat majemuk seperti yang ada sekarang ini, dan infrastruktur peninggalan penambangan batubara pada zaman kolonial Belanda memberikan identitas tersendiri bagi Kota Sawahlunto.
Sebagai sebuah kota yang berkembang dari area pertambangan milik Pemerintah Kolonial Belanda, Kota Sawahlunto mewarisi berbagai macam peninggalan infrastruktur pertambangan dan bangunan-bangunan. Hampir semua bangunan yang dibangun saat itu berfungsi sebagai pusat administrasi dan penunjang operasional pertambangan. Yang tidak kalah menarik adalah kisah-kisah yang mewarnai sejarah masyarakat pertambangan di Kota Sawahlunto.
Kota Tua Sawahlunto, dengan luas 779,6 hektar, dapat berkembang  menjadi sebuah daya tarik wisata yang mempunyai daya jual yang cukup tinggi apabila para stakeholder pariwisata setempat dapat mengemas sumber daya pariwisata yang ada. Salah satu strateginya adalah membuat para pengunjung yang datang ke Kota Tua Sawahlunto menghabiskan waktu lebih lama di sana. Daya tarik wisata di Kota Tua Sawahlunto mencakup sisa lubang bekas penambangan batubara yang dikenal dengan nama Lobang Mbah Soero, dapur umum yang memproduksi makanan bagi para pekerja dalam jumalh besar yaitu Goedang Ransoem, serta beberapa gedung pemerintahan peninggalan masa kolonial yang masih berdiri kokoh. Akan tetapi ketersediaan interpretasi bagi pusaka (heritage) tersebut masih kurang, seperti di Lobang Mbah Soero. Dari sisi nama, sebetulnya Lobang Mbah Soero dapat menimbulkan rasa ingin tahu (curiousity) yang cukup besar, tetapi interpretasi serta dramatisasi terhadap lubang bekas penggalian batubara ini belum cukup untuk mengangkat reputasi daya tarik ini. Di sisi lain, cukup banyak kisah yang melatarbelakangi bekas tambang penggalian batubara itu yang bisa dikomodifikasi sebagai starting point perjalanan daya tarik otentik wisata tambang di Kota Tua Sawahlunto.

Kondisi Fisik dan Lingkungan                      

Geografi

Kota Sawahlunto terletak di koordinat 100°41’59” - 100°49’60” BT dan 0°33’10” - 0°48’33” LS. Kota ini berjarak 94 km ke arah timur Kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat, dan 137 km ke arah selatan Kota Bukittinggi, salah satu kota tujuan wisata di provinsi ini.
Kota Sawahlunto memiliki luas wilayah sebesar 27,344,7 ha atau 273 km², dan terdiri dari 4 kecamatan, 10 kelurahan, dan 27 desa. Kota ini adalah salah satu dari enam daerah kota di Sumatera Barat dan merupakan kota terbesar keempat setelah Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh, dan berada di atas dua kota yang lebih kecil yaitu Solok dan Padang Panjang. Keempat kecamatan di Kota Sawahlunto adalah Kecamatan Talawi (9.939 hektar dengan 11 desa), Kacamatan Barangin (8.855 hektar dengan 5 kelurahan dan 5 desa), Kecamatan Lembah Segar (5.258 hektar dengan 6 kelurahan dan 5 desa), dan Kecamatan Silungkang (3.593 hektar dengan 5 desa). Pada tahun 2008, jumlah penduduknya mencapai 54.310 jiwa, yang menjadikan kepadatan rata-rata penduduknya 199 jiwa/km².
Secara administratif, Kota Sawahlunto berbatasan dengan:
-       Kabupaten Tanah Datar di sebelah utara
-       Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung di sebelah timur
-       Kabupaten Solok di sebelah selatan dan barat
Kota ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu ‘kota lama’ dan ‘kota baru’ – yang terakhir merupakan pemekaran dari ‘kota lama’. ‘Kota lama’ terletak di Kecamatan Lembah Segar dan memiliki luas 779,6 ha, yang mulai terbentuk ketika area tambang batu bara dibuka pada akhir abad ke-19. Daerah ini juga dikenal sebagai pusat administrasi wilayah kota keseluruhan. Adapun batas ‘kota lama’ adalah:
-       Nagari Kolok (Kecamatan Barangin) dan Sijantung (Kecamatan Talawi) di sebelah utara
-       Nagari Kubang (Kecamatan Lembah Segar) di sebelah timur dan barat
-       Nagari Kubang (Kecamatan Lembah Segar) dan Nagari Silungkang (Kecamatan Silungkang) di sebelah selatan
Kota Sawahlunto terletak di antara jajaran Bukit Barisan. Dengan ketinggian antara 250-650 m dpl, Kota Sawahlunto memiliki bentang alam yang bervariasi, terdiri dari perbukitan terjal, landai, dan dataran. Kota lama seluas 5,8 km terletak di sebuah plato sempit yang dikelilingi perbukitan terjal, menjadikan daerah sekelilingnya sebagai pembatas dalam pengembangan tata wilayah kota ini. Sedangkan kawasan datar yang relatif lebar terdapat di Kecamatan Talawi, yang terbentang dari utara ke selatan, sementara di bagian utara yang bergelombang dan relatif datar, kawasan berpenduduk lebih banyak berada di kawasan dengan ketinggian 100 – 500 m dpl. Untuk kawasan yang terletak pada bagian timur dan selatan, topografi wilayahnya relatif curam (dengan kemiringan lebih dari 40%).
Morfologi atau bentang alam Kota Sawahlunto dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi perbukitan terjal, perbukitan landai, dan dataran. Perbukitan terjalnya berupa bukit membulat dengan lereng bukit curam hingga terjal. Kemiringan lereng terjal menjadi kendala sekaligus faktor pembatas bagi perkembangan wilayah ini. Perbukitan landai terletak hampir di tengah Kota Sawahlunto seperti kondisinya saat ini, tetapi umumnya berupa jalur-jalur sempit yang dapat dikembangkan menjadi suatu permukiman perkotaan. Posisinya memanjang sepanjang sepanjang sesar Sawahlunto, memisahkan perbukitan terjal yang terletak di kedua sisinya. Sedangkan dataran yang memungkinkan berkembangnya permukiman perkotaan hanya dijumpai di Talawi dan Kota Sawahlunto (Pemerintah Daerah Kota Sawahlunto dan Lembaga Pengabdian pada Masyarakat, ITB).
Kawasan dengan kemiringan lereng antara 0% hingga 15%, yaitu kawasan di Kota Sawahlunto yang bisa dimanfaatkan dengan sedikit kesukaran teknis dan aman, hanya memiliki luas 5.183 hektar atau 18,5% luas daerah, yang mana seluas 2.411 hektar berada di Talawi.

Kota Sawahlunto dilalui oleh lima sungai, yaitu:
1.      Batang Ombilin, yang mengalir dari Desa Talawi di utara ke Desa Rantih, Kecamatan Talawi, di selatan
2.      Batang Malakutan, yang mengalir dari hulunya di Desa Siberambang, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Solok di barat, melewati beberapa Desa Kolok Mudiak dan Desa Kolok Tuo di Kecamatan Barangin, ke arah timur dan bertemu dengan Sungai Ombilin
3.      Batang Lunto, berhulu di Desa Lumandai di Kecamatan Barangin di barat, mengalir ke arah timur dan membelah Kota Sawahlunto, Kecamatan Lembah Segar dan bermuara di Batang Ombilin
4.      Batang Sumpahan, berhulu di Kelurahan Sapan, Kecamatan Barangin, kemudian bertemu dengan Batang Lunto dan bermuara di Batang Ombilin
5.      Batang Lasi, berhulu di Sepuluh Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, yang mengalir menyusuri sepanjang jalan dari Solok ke Sijunjung, Kecamatan Silungkang, dan keluar di perbatasan Kota Sawahlunto, Sijunjung. Sungai ini kemudian bertemu dengan Batang Ombilin di Sungai Kuantan dan Indragiri.
Seluruh sungai yang melalui Kota Sawahlunto berhulu di Sungai Indragiri di Provinsi Riau. Dewasa ini, sungai dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan sedikit untuk pertanian. 

Geologi

Kota Sawahlunto terletak di sebuah cekungan batuan yang terbentuk pada masa Pra-Tersier Ombilin. Bentuknya berupa belah ketupat panjang dengan ujung yang bulat, dengan lebar 22,5 km dan panjang 47 km. Cekungan yang dalamnya diperkirakan sampai 2 km itu diisi oleh lapisan yang lebih muda, yang disebut dengan formasi Brani, formasi Sangkarewang, formasi Sawahlunto, formasi Sawah Tambang, dan formasi Ombilin. Formasi Ombilin tergolong lapisan paling muda, yang terbentuk pada jaman Tersier, lebih dari 2 juta tahun yang lalu. Kota Sawahlunto sendiri berdiri di atas formasi Sawahlunto, yang berupa batuan dan terbentuk pada jaman Eocen dari masa sekitar 40 – 60 tahun yang lalu. Menurut para ahli, wilayah sekitar kepulauan Nusantara yang dikenal saat ini terbentuk sekitar 4 juta tahun yang lalu, sehingga diperkirakan ketika formasi Sawahlunto terbentuk, Pulau Sumatera belum ada.
Di cekungan Ombilin ini tersimpan batu bara, yang telah ditambang sebanyak lebih kurang 30 juta ton dan telah teruji dan diperkirakan masih tersisa sekitar 132 juta ton. Biasanya, lapisan tanah dan batuan tua ini memang menjadi beku atau keras serta sulit meluluskan atau menyimpan air tanah . Kemungkinan air tanah hanya tersimpan di kulit bumi yang telah lapuk, tetapi tidak demikian halnya dengan formasi Sawahlunto. Tanahnya mengandung butiran pasir yang dapat meluruskan air, tetapi dari gambar penampang geologi Ombilin, diduga air itu justeru lolos ke tempat lain (Pemerintah Daerah Kota Sawahlunto dan Lembaga Pengabdian pada Masyarakat, ITB).

Tata Guna Lahan

Penggunaan lahan Kota Sawahlunto masih didominasi oleh penggunan lahan hijau, terutama kebun campuran seluas 35,8% dari seluruh luas wilayah Kota Sawahlunto. Penggunaan lahan lainnya yang juga cukup luas adalah penggunaan untuk hutan dan semak/alang-alang (32,5%). Permukiman hanya menempati wilayah seluas 3.063 ha (11,2% dari luas wilayah). Penggunaan lahan yang terkait dengan pariwisata, yaitu taman rekreasi/olahraga hanya menempati seluas 0,2% dari luas wilayah kota.

Cuaca dan Iklim

Seperti daerah lainnya di Provinsi Sumatera Barat, Kota Sawahlunto mengalami iklim tropis. Suhu minimum 22 °C dan maksimum 33°C. Terdapat dua musim sepanjang tahun, yaitu musim hujan pada bulan November sampai Juni, dan musim kemarau pada bulan Juli sampai bulan Oktober. Curah hujan rata-rata sebesar 1.071,6 milimeter per tahun, dengan curah hujan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Desember.

Kondisi Kependudukan dan Sosial Budaya

Perkembangan Penduduk                                                                               

Laju pertumbuhan penduduk merupakan faktor yang sangat penting dalam memprediksi jumlah penduduk pada tahun tertentu. Mengingat Kota Sawahlunto merupakan kota yang perkembangannya berasal dari aktivitas pertambangan batubara, maka laju pertumbuhan penduduk secara dominan tidak dipengaruhi oleh tingkat kelahiran dan kematian, akan tetapi tingkat migrasi penduduklah mempunyai pengaruh yang sangat tinggi terhadap pertumbuhan jumlah penduduk Kota Sawahlunto.
Berdasarkan data BPS Kota Sawahlunto tahun 2010, laju pertumbuhan penduduk Kota Sawahlunto per tahun selama sepuluh tahun terakhir, yaitu dari tahun 2000-2010, adalah sebesar 1,10%. Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Silungkang adalah yang tertinggi dibandingkan kecamatan lain di Kota Sawahlunto, yaitu sebesar 1,61%, sedangkan yang terendah di Kecamatan Lembah Segar, yaitu sebesar 0,02%. Kecamatan Barangin menempati urutan kedua dari jumlah penduduk di Kota Sawahlunto, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,41%. Kecamatan Talawi, walaupun memiliki jumlah penduduk yang terbanyak, laju pertumbuhannya hanya sebesar 1,38%.
Struktur Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Proporsi penduduk yang bekerja di sektor ekonomi di Kota Sawahlunto selama empat tahun terakhir menunjukkan pergeseran dari sektor pertanian ke sektor jasa (lihat tabel). Struktur mata pencaharian penduduk berdasarkan data BPS Kota Sawahlunto pada tahun 2009 menunjukkan bahwa tenaga kerja terbesar bergerak di bidang jasa (24,52%), diikuti pertanian (19,25%), dan perdagangan (19,13%)



Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data BPS Kota Sawahlunto tahun 2010, jumlah penduduk Kota Sawahlunto adalah 56.812 orang, yang terdiri atas 28.127 laki-laki dan 28.685 perempuan. Dari data tersebut diketahui bahwa Kecamatan Talawi merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak, yaitu 17.676 orang (31,11%), kemudian diikuti oleh Kecamatan Barangin dengan jumlah penduduk 16.852 orang (29,66%), Kecamatan Lembah Segar dengan jumlah penduduk 12.164 orang (21,41%), dan Kecamatan Silungkang dengan jumlah penduduk 10.120 orang (17,81%).
Dengan luas wilayah Kota Sawahlunto sebesar 238,61 km² yang didiami oleh 56.812 orang, maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kota Sawahlunto adalah sebanyak 238 orang per km² (BPS Kota Sawahlunto, 2010). Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Lembah Segar, yaitu sebanyak 431 orang per km²; kedua terpadat adalah Kecamatan Silungkang 411 orang per km²; setelah itu, Kecamatan Barangin 322 orang per km², sedangkan yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Talawi, sebanyak 189 orang per km².

Kondisi Sosial Budaya

Kota Sawahlunto adalah kota multietnis di Sumatera Barat yang tidak saja dihuni oleh beragam etnis dari berbagai penjuru nusantara namun juga luar negeri. Hal inilah yang membedakan sejarah sosial kemasyarakatan Sawahlunto dengan kota-kota lainnya di Sumatera Barat yang didominasi oleh etnis suku bangsa Minangkabau. Di Kota Sawahlunto, selain etnis Minangkabau, juga terdapat etnis Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Bugis-Makassar, Tionghoa, dan bahkan bangsa Eropa terutama Belanda.

Berada dalam satu bingkai kehidupan masyarakat tambang di Sawahlunto dengan akar budaya masing-masing telah menjadi sebuah fenomena yang ikut mewarnai perjalanan sejarah sosial budaya Kota Sawahlunto. Tidak mengherankan apabila seni-budaya berbagai etnis di Sawahlunto hidup dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keragaman tersebut akan terlihat pluralistiknya dalam acara-acara besar seperti perayaan hari kemerdekaan nasional dan pekan budaya Kota Sawahlunto. Bahkan di antara pelaku satu kesenian dengan kesenian lainnya tidak harus selalu didukung oleh masyarakat pendukung utama kebudayaan tersebut, akan tetapi juga terdapat etnis dari suku-suku bangsa lainnya. Apabila ada pertunjukan kesenian kuda kepang yang aslinya merupakan kebudayan Jawa, justeru dalam pertunjukannya juga terdapat etnis Minang atau China. Begitu juga dengan tabuik Pariaman, pada bagian-bagian tertentu pemain musiknya adalah orang-orang beretnis Jawa dan etnis lainnya. Selain itu, sebagian besar masyarakat masih menjunjung tinggi dan menjalankan nilai-nilai dan norma-norma berdasarkan adat budaya Minang yang diturunkan dari leluhur mereka.
Keunikan Kota Sawahlunto terkait kondisi sosial budayanya adalah keberadaan Balairung (Balai Adat) yang merupakan tempat semua anggota masyarakat untuk mediskusikan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul di kalangan mereka. Balairung adalah bangunan yang digunakan oleh para penghulu untuk mengadakan rapat tentang urusan pemerintah nagari dan menyidangkan perkara atau pengadilan. Bentuknya sama dengan rumah gadang, yaitu dibangun di atas tiang dengan atap yang bergonjong-gonjong, tetapi kolongnya lebih rendah dari kolong rumah gadang. Bangunannya tidak berdaun pintu dan berdaun jendela. Adakalanya balairung tidak berdinding sama sekali, sehingga penghulu yang mengadakan rapat dapat diikuti oleh masyarakat umum seluas-luasnya.

Kondisi Perekonomian

Secara umum, perekonomian Kota Sawahlunto yang dahulunya dihasilkan dari batubara, saat ini mulai bergeser ke industri jasa. Hal itu tergambar pada gambar 2.1, di mana terlihat bahwa sektor jasa mendominasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2009 (sebanyak 26%). Hal ini mengindikasikan pergeseran kontribusi sektor pertambangan dan penggalian sebesar 17%, yang dulunya merupakan sektor penghasil utama  Kota Sawahlunto.
Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kota Sawahlunto tahun 2005-2009. Melalui tabel itu dapat dilihat bahwa pada tahun 2005 produksi Pertambangan dan Penggalian mengalami masa yang sangat sulit dan mengalami perbaikan di tahun 2006, kemudian berangsur membaik pada tahun-tahun selanjutnya. Sementara itu, sektor Pertanian yang mengalami penurunan drastis dari tahun 2005 menuju tahun 2006 berangsur membaik sedikit demi sedikit pada tahun-tahun selanjutnya. Yang membanggakan adalah perkembangan sektor Jasa yang sangat pesat dari tahun 2005, yang mencapai 62% dalam kurun waktu lima tahun. Secara umum, perkembangan perekonomian Sawahlunto mencapai angka 12.05%.
Sektor Jasa merupakan sektor penyumbang perekonomian utama Kota Sawahlunto karena memiliki garis yang paling tinggi dibandingkan dengan garis sektor yang lainnya. Selain itu, pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran juga memiliki kenaikan semenjak tahun 2007. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian terus mengalami penurunan pendapatan.




Sektor pertambangan dan penggalian serta jasa-jasa pada tahun 2005 menempati porsi yang sama besarnya dalam PDRB. Sedangkan untuk perkembangan kontribusi dari sektor jasa-jasa semakin bertambah seiring dengan perkembangan pendapatan dari sektor jasa itu sendiri. Untuk sektor pertambangan dan penggalian, karena tidak mengalami peningkatan pendapatan yang terlalu cepat, menghasilkan porsi kontribusi yang terus tergerus dengan sektor usaha yang lainnya.
Pendapatan di sektor pertanian yang sangat kecil menandakan bahwa Kota Sawahlunto banyak mengimpor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Nilainya yang kurang dari 1% dapat mencerminkan bahwa Kota Sawahlunto bukan masyarakat agraris dan tidak bisa juga digolongkan ke dalam industri, tetapi sudah beralih langsung ke sektor jasa.

Kawasan Pariwisata Utama

Kawasan Pariwisata Kota Tua-Puncak Polan-Puncak Cemara
Sesuai dengan nama kawasannya, kawasan pariwisata ini mencakup tiga kawasan, yaitu Kawasan Kota Tua atau biasa juga disebut Kawasan Kota Lama, Kawasan Puncak Polan, dan Kawasan Puncak Cemara. Ketiga kawasan tersebut dihubungkan dengan jalan utama yang menghubungkan bagian tengah dengan bagian utara Kota Sawahlunto. Secara administratif, Kawasan Pariwisata Kota Tua-Puncak Polan-Puncak Cemara terletak di Kelurahan Tanah Lapang, Kelurahan Air Dingin, Kelurahan Saringan, dan Kelurahan Kubang Sirakukutara, yang seluruhnya termasuk di lingkup wilayah  Kecamatan Lembah Segar.
Kawasan ini dikembangkan dengan tema utama geowisata pertambangan batu bara dan tema pendukung wisata heritage dan wisata ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS). Kedua tema tersebut dikembangkan sesuai dengan potensi daya tarik wisata yang terdapat di kawasan tersebut. Daya tarik wisata utama yang akan dikembangkan untuk mendukung tema adalah Puncak Polan, Puncak Cemara, Situs Tambang Durian, Silo dan Sizing Plant, Lobang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem, dan Museum Kereta Api. Sementara itu, daya tarik wisata pendukung yang dikembangkan adalah Perumahan Tansi, Gedung Pusat Kebudayaan, Kantor PT. Bukit Asam, bangunan heritage di koridor Jl.  Ahmad Yani, Museum IPTEK, sanggar seni di Kota Tua (Permato Hitam dan lainnya), Kawasan Masjid Agung, dan makam Belanda. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar.
 
Kawasan Rekreasi Tematik Kandi
Kawasan Rekreasi Tematik Kandi mencakup seluruh daya tarik wisata yang saat ini sudah berkembang di Kawasan Kandi, seperti Taman Satwa Kandi, Pacuan Kuda, kebun buah, dan lain-lain, serta kawasan “Dream Land” yang masih pada tahap perencanaan. Kawasan Rekreasi Tematik Kandi terletak di kawasan yang merupakan bekas pertambangan batu bara dan sebagian masih merupakan kawasan pertambangan aktif, yang masih dilakukan proses penambangan. Secara administratif, Kawasan Rekreasi Tematik Kandi mencakup 1 (satu) desa di Kecamatan Barangin, yaitu Desa Kolok Mudik, dan 4 (empat) desa di Kecamatan Talawi, yaitu Desa Sikalang, Desa Sijantang, Desa Salak, dan Desa Rantih.
Sesuai dengan daya tarik wisata yang sudah dan akan dikembangkan di kawasan ini, tema utama pengembangan pariwisata Kawasan Rekreasi Tematik Kandi adalah rekreasi bertema, artinya kegiatan rekreasi yang dikembangkan di kawasan ini tidak sekedar kegiatan rekreasi biasa/umum, tetapi harus memiliki tema-tema tertentu. Tema pendukung yang dikembangkan untuk Kawasan Rekreasi Tematik Kandi adalah agrowisata, geowisata proses pengolahan tambang batubara, dan geowisata bekas pertambangan.
Untuk mendukung kedua tema, daya tarik wisata utama yang akan dikembangkan untuk mendukung tema adalah kawasan resor “Dream Land”, dengan daya tarik wisata pendukungnya adalah agrowisata kebun buah Kandi, hutan kota Kandi, Taman Satwa Kandi, kawasan penambangan batu bara, Sungai Ombilin, dan Desa Rantih. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar.
 
Kawasan Geowisata Silungkang
Kawasan Geowisata Silungkang terletak di pintu masuk Kota Sawahlunto dari arah Kabupaten Solok. Saat ini, daya tarik wisata yang sudah berkembang di kawasan tersebut adalah tenun khas Silungkang yang dijual di toko-toko souvenir sepanjang jalan lintas barat Sumatera yang melalui kawasan ini. Selain tenun Silungkang, kawasan ini sebenarnya memiliki potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata Kota Sawahlunto, bahkan sangat potensial untuk memperkuat terwujudnya world geomining destination, yaitu tebing-tebing di sepanjang jalan yang merupakan potensi geowisata yang sangat tinggi. Secara administratif, Kawasan Geowisata Silungkang mencakup 3 (tiga) desa di Kecamatan Silungkang, yaitu Desa Silungkangoso, Silungkangduo, dan Silungkangtigo; serta 3 (tiga) desa di Kecamatan Lembah Segar, yaitu Desa Kubang Tengah, Pasar Kubang, dan Kubang Utara Sikabu.
Kawasan geowisata Silungkang dikembangkan dengan tema utama geowisata dan tema pendukung budaya tradisional dan agrowisata durian. Daya tarik wisata utama yang akan dikembangkan adalah geowisata tebing-tebing pembentuk Kota Sawahlunto, sedangkan daya wisata pendukungnya adalah kampung tenun Silungkang, proses pembuatan kopi cap “Teko”, dan agrowisata perkebunan durian. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar.

 

Kawasan Pariwisata Pendukung

Kawasan Rekreasi Muaro Kalaban
Kawasan Rekreasi Muaro Kalaban dikembangkan untuk memperkuat daya tarik wisata waterboom sebagai waterboom pertama di Sumatera Barat dan meningkatkan keterkaitan dengan daya tarik wisata lain di sekitarnya, yaitu Stasiun dan Terowongan Muaro Kalaban, serta daya tarik wisata kuliner khas Sawahlunto. Kawasan Rekreasi Muaro Kalaban merupakan kawasan pariwisata terkecil di Kota Sawahlunto, hanya mencakup dua desa, yaitu Desa Muaro Kalaban di Kecamatan Silungkang dan Desa Kubang Sirakukselatan di Kecamatan Silungkang.
Tema utama yang dikembangkan untuk Kawasan Rekreasi Muaro Kalaban adalah rekreasi tirta dan tema pendukungnya adalah sejarah pertambangan dan wisata kuliner. The Unique Waterboom sebagai daya tarik rekreasi satu-satunya yang saat ini sudah berkembang menjadi daya tarik wisata utama kawasan ini. Daya tarik wisata pendukungnya adalah Stasiun Muaro Kalaban dan Terowongan Muaro Kalaban serta wisata kuliner Sop Bang Jon dan Dendeng Batokok. Lebih jelasnya, Kawasan Rekreasi Muaro Kalaban dapat dilihat pada gambar.
Kawasan Pariwisata Budaya Barangin
Dibandingkan kawasan pariwisata lainnya, Kawasan Pariwisata Budaya Barangin merupakan satu-satunya kawasan pariwisata yang belum berkembang, padahal potensi alam maupun budayanya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Kawasan Pariwisata Budaya Barangin mencakup Desa Talagogunung, Desa Balai Batu Sandaran, Desa Lumindai di Kecamatan Barangin.
Tema utama pengembangan kawasan ini adalah pariwisata budaya dan tema pendukungnya agrowisata, dari mulai agrowisata perkebunan durian, pengolahan minyak atsiri, dan agrowisata peternakan sapi. Untuk mendukung kedua tema tersebut, daya tarik wisata utama yang dikembangkan di Kawasan Pariwisata Budaya Barangin adalah Desa Balai Batu Sandaran dengan situs dan upacara tolak bala Karu. Sesuai dengan tema pendukung agrowisata, daya tarik wisata pendukung kawasan ini adalah perkebunan durian, pengolahan minyak atsiri, peternakan sapi Lumindai

Jalur-Jalur Wisata Kota Sawahlunto

Jalur-jalur wisata Kota Sawahlunto dikembangkan untuk meningkatkan keterkaitan antara kawasan pariwisata yang ada di Kota Sawahlunto dan antara destinasi pariwisata Kota Sawahlunto dengan destinasi pariwisata lain di Sumatera Barat. Jalur wisata dikembangkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut.
1.         Faktor kesatuan tema daya tarik wisata. Kesatuan tema daya tarik wisata adalah faktor penting yang dipertimbangkan dalam pengembangan jalur wisata Kota Sawahlunto. Kesatuan tema daya tarik wisata yang dimaksud dalam hal ini adalah daya tarik wisata yang merupakan titik-titik utama jalur wisata berpotensi menawarkan satu rangkaian tema yang dapat memberikan nilai tambah bagi pengetahuan dan pengalaman wisatawan.
2.         Faktor aksesibilitas. Faktor aksesibilitas menjadi penting dalam pengembangan jalur wisata karena komponen utama pembentuk jalur wisata adalah jalan, selain ketersediaan aksesibilitas yang baik dapat mempengaruhi perkembangan pariwisata di kawasan-kawasan yang dilalui jalur wisata tersebut.
3.         Kebijakan pengembangan pariwisata di destinasi sekitar Kota Sawahlunto. Jalur wisata yang dikembangkan harus dapat mendukung kebijakan pengembangan pariwisata yang ditetapkan agar dapat meningkatkan keterkaitan yang sinergis dan integratif antara kawasan pariwisata.
Jalur wisata yang dikembangkan di Kota Sawahlunto terdiri dari dua jenis jalur, yaitu jalur wisata lokal dan jalur wisata regional. Jalur wisata lokal merupakan jalur wisata yang menghubungkan antara kawasan pariwisata utama dengan kawasan pariwisata pendukung. Jalur wisata regional merupakan jalur wisata yang menghubungkan Kota Sawahlunto dengan destinasi/daya tarik wisata di sekitar Kota Sawahlunto.

Jalur Wisata Lokal

Jalur Wisata Geologis Puncak Cemara - Silungkang
                                    Tema pengembangan jalur wisata ini adalah geowisata pembentukan Kota Sawahlunto. Jalur wisata ini memiliki tiga titik utama daya tarik, yaitu Puncak Cemara, Puncak Polan, dan Silungkang. Puncak Cemara dan Puncak Polan menawarkan daya tarik wisata berupa sejarah geologis pembentukan Bukit Barisan, sejarah geologis pembentukan batu bara, dan sejarah geologis cekungan Sawahlunto. Sementara itu, Silungkang menawarkan daya tarik wisata berupa sejarah geologis pembentukan tebing-tebing, kandungan geologis pembentuk tebing Silungkang, dan kaitan bentuk geomorfologis dengan budaya Silungkang.
                        Daya tarik wisata utama jalur wisata ini adalah adalah Puncak Cemara,  Puncak Polan,  Tebing Silungkang, sementara daya tarik wisata pendukungnya adalah tenun Silungkang dan kopi cap “Teko”.

Jalur Wisata Sejarah Pertambangan Sungai Durian – Kota Tua – Muaro Kalaban
            Sesuai namanya, tema pengembangan jalur wisata ini adalah sejarah pertambangan batu bara Kota Sawahlunto. Jalur wisata ini memiliki tiga titik utama daya tarik, yaitu Sungai Durian sebagai tempat pertama kali ditemukan batu bara di Sawahlunto, Kota Tua tempat berbagai aktivitas pertambangan berlangsung pada zaman dahulu, dari mulai kegiatan kuli rantai sebagai tenaga penambang batu bara, proses penambangan yang dilakukan, serta pengangkutan batu bara melalui stasiun kereta api, dan Muaro Kalaban tempat terdapatnya stasiun dan terowongan yang selalu dilalui kereta pengangkut batu bara.
Daya tarik wisata utama jalur wisata ini adalah Sungai Durian, Lobang Mbah Soero,  Goedang Ransoem, Silo, Sizing Plant, Rumah Tansi, Museum Kereta Api, dan Stasiun Kereta Api Muaro Kalaban. Sementara itu, daya tarik wisata yang dikembangkan untuk sebagai daya tarik wisata pendukungnya adalah Puncak Cemara,  Puncak Polan,  bangunan heritage koridor Jl. Ahmad Yani,  pusat kuliner Muaro Kalaban.

Jalur Wisata Pendidikan Kota Tua – Kandi
                        Tema pengembangan jalur wisata ini adalah wisata pendidikan, baik pendidikan tentang proses penambangan batu bara maupun yang terkait dengan proses penambangan. Jalur wisata ini memiliki dua titik utama daya tarik, yaitu Kawasan Kandi dan Kawasan Kota Tua. Kawasan Kandi menawarkan daya tarik wisata pendidikan berupa proses penambangan batu bara dan proses pemanfaatan lahan bekas pertambangan untuk agrowisata. Kawasan Kota Tua menawarkan daya tarik wisata pendidikan yang tidak terkait langsung dengan pertambangan, seperti pengetahuan tentang teknologi perkeretaapian dan pengetahuan lain yang dapat mendukung proses pertambangan (fisika, kimia, biologi, geologi, dan lain-lain).
                                    Daya tarik wisata utama jalur wisata ini adalah Museum IPTEK, Museum Kereta Api, Resor “Dream Land”, serta lahan bekas pertambangan dan lokasi penambangan aktif. Daya tarik wisata pendukungnya adalah Taman Satwa, kebun buah, dan penangkaran buaya.

Jalur Wisata Budaya Silungkang – Kota Tua – Balai Batu Sandaran
                        Tema utama jalur wisata ini adalah pariwisata budaya, dengan tiga titik utama daya tarik, yaitu Silungkang, Kota Tua, dan Balai Batu Sandaran. Silungkang menawarkan daya tarik wisata berupa budaya tenun tradisional dan budaya pengolahan kopi tradisional. Kota Tua menawarkan daya tarik wisata berupa budaya tansi dan kesenian tradisional. Balai Batu Sandarqan menawarkan daya tarik wisata berupa situs Balai Batu Sandaran, upacara adat tolak bala Karu, dan budidaya minyak atsiri.
                        Daya tarik wisata utama jalur wisata ini adalah kampung tenun Silungkang, Kopi Cap Teko, perumahan tansi, sanggar seni di Kota Tua, Gedung Pusat Kebudayaan, situs Balai Batu Sandaran, upacara tolak bala “Karu”.  

Daftar Walikota

Daftar Walikota yang memimpin kota Sawahlunto sejak pertama berdiri sampai sekarang:

No. Nama Masa jabatan
1. Achmad Nurdin, S.H. 1965 s/d 1971
2. Drs. Shaimoery, S.H. 1971 s/d 1983
3. Drs. Nuraflis Salam 1983 s/d 1988
4. Drs. H. Rahmatsjah 1988 s/d 1993
5. Drs. H. Subari Sukardi 1993 s/d 1998 dan 1998 s/d 2003
6. Ir. H. Amran Nur 2003 s/d 2008 dan 2008 s/d 2013


Loading...

Map DataMap data ©2013 Tele Atlas - Terms of Use
Map Data
Map data ©2013 Tele Atlas
Map data ©2013 Tele Atlas

Map

Satellite




Syukri, S.SnPosted By Syukri

Terima Kasih telah membaca artikel yang saya tulis ini tentunya masih banyak kekurangan dengan. Sehingga saya akan sangat senang dan berterima kasih dengan saran, pertanyaan maupun kritik yang membangun. Silahkan Tinggalkan Komentar... contact me

Thank You


1 Responses So Far:

SAWAHLUNTO mengatakan...

Very good my village and home town

Poskan Komentar

Radio Cimbuak.net