This is an example of a HTML caption with a link.
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2019

WARGA TANJUNG SARI GELAR KOMPETISI MURAL SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN SAWAHLUNTO DITETAPKAN WARISAN BUDAYA DUNIA UNESCO


Melalui tajuk “Menuangkan Imajinasi dalam Bentuk Mural”, masyarakat yang tergabung dalam Karang TarunaTanjung Aur Mulyo dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Aur Mulyo, Kec. Lembah Segar bahu membahu mewujudkan “Alek Masyarakat” dalam mewujudkan sebuah iven yang berangkat dari seni melukis dengan media dinding atau tembok yang luas lebih dikenal dengan sebutan Mural.

                Kompetisi Mural akan dilaksankan pada sepanjang dam jalur utama Aur Tanjung Sari pada tanggal 23 s.d 24 November 2019. Dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada peserta pendaftaran sudah bisa di terima oleh panita mulai tanggal 7 Oktober 2019, sekaligus dapat mengirimkan Design awal skesta yang nantinya akan di seleksi oleh tim penilai untuk mendapatkan kesempatan selanjutnya melahirkan karya mural tersebut.

Warga Goro melakukan plester semen pada dam
                Kegiatan ini dilaksakan sebagai bentuk dukungan masyarakat untuk mendukung Penetapan Sawahlunto Sebagai Kota Warisan Dunia oleh UNESCO, melalui pemanfaatan lingkungan agar lebih bernilai yang nantinya juga berdampak terhadap datangan kunjungan wisata yang akan juga menggenjot Ekonomi Masyarakt sekitar, pungkas Ketua Pelaksana Yogi Andika Hendraliza, S.Sn didampingi Gusril Ketua LPM Kelurahan Aur Mulyo disela-sela gotong royong pembersihan lokasi Media Mural Minggu 06 Oktober 2019.


                Seluruh persiapan awal mulai dari kebersihan, melakukan plester semen pada dam warga dilajukan secara goro dengan memberdayakan swadaya masyarakat. Ini langkah awal semoga dapat memicu bergeraknya kelompok-kelompok masyarakat berkreativitas melahirkan ide-ide kedalam bentuk program kegiatan lainnya ungkap Gusril. Untuk tahap awal kita menyediakan Total Hadiah untuk peserta sebanyak Rp, 28.000.000,- dan tidak tertutup akan bertambah dari pihak-pihak sponsor yang ingin berpartisipasi pada kegiatan ini. 

                Iven ini di Brading dengan sebutan “Tanjung Sari Mural Competition 2019”, sebagai perhelatan perdana, seluruh warga berharap sukses dan kegiatan ini dapat menjadi Calender of Event Kota Sawahlunto bahkan Sumatra Barat karna kegiatan ini memang berbasiskan masyarakat dan juga sebagai bagian dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Sawahlunto yang ke 131 pada 1 Desember 2019 mendatang, tambah Yogi. (sy)



Minggu, 20 Januari 2019

Pasar Silo, Destinasi Kekinian Kota Sawahlunto


Pasar Silo
Jika mendengar kata Pasar, akan terbayang berbagai aktivitas pada umumnya yaitu proses transaksi barang dan jasa antara penjual dan pembeli dan identik terjadinya tawar menawar harga sampai deal dan sepakat sehingga barang yang diinginkan sipembeli diberikan oleh sipenjual dengan nominal yang telah di tentukan dan dibayar dengan Uang sebagai alat pembayaran yang sah.

Lain lagi dengan Pasar Silo, adalah pasar kekinian di buat atas dasar Program Kementrian Pariwisata Repbulik Indonesia melalui Generasi Pesona Indonesia (GenPi) sawahlunto. Sebuah Destinasi Digital yang heboh di Dunia Maya, viral di Media Sosial dan nge hit di instagram berlokasi di Kawasan Taman Silo kawasan Kota Tua Sawahlunto tepatnya di Kelurahan Saringan Kec. Barangin Kota Sawahlunto.

Silo dahulunya adalah lokasi penyimpanan batu bara yang siap didistribusikan setelah proses pencucian dan pemisahan jenis kalori, berbentuk tabung besar berjumlah tiga buah dengan tinggi sekitar 40 meter menjadikan Pasar Silo lebih mantap dengan tema heritage nya. Pada saat ini telah dijadikan taman dan play ground dengan tema Kota tua terdapat juga peron dan juga rel kereta api sehingga menjadikan kawasan ini sangat mediamabble untuk generasi milienal.

Spot Selfie
Layaknya sebuah pasar, Pasar Silo menyediakan aneka jajanan jadul rasa gaul, serta jajanan tempo dulu sentuhan milenial seperti Getuk, Tiwul, Onde-onde, Ongol-ongol, Pecel, Pisang Baka Basantan, Kalikih Basantan, Kopi abuih, lapek dan sebagainya. Selain aneka kuliner khas Kota Arang ini, juga terdapat aneka permainan anak nagari yang sudah di modifikasi gaya kekinian seperti Congklak dan Ular tangga raksana, Lompat tali Karet, Main golong-golong (pacu ban motor bekas), Enggrang batok kelapa dan lainya. Tak kalah menarik lagi aneka spot selfie kekinian yang di garap oleh GenPi Sawahlunto dan selalu di upgrade setiap minggunya, sehinga dapat menghindari kemonotonan bagi pengunjung yang selalu datang berkunjung dan juga dapat menarik pengunjung-pengunjung dan wisatawan luar daerah.

Berlokasi dekat dengan alun-alun Kota yang lebih tenar dengan sebutan Lapangan Segitiga atau lapseg sebuah taman di depan Kantor PT.Ba, pasar silo dapat ditempuh dengan jalan kaki sekitar 3 menit dari lapseg melalui kawasan perumahan karyawan PT.Ba UPO. Persis seperti hari pasaran pada pasar tradisional yang mempunyai jadwal khusus, Pasar Silo ini buka setiap Hari Minggu pagi mulai pukul 07.00 WIB s.d 12.00 WIB. Destinasi Digital ini telah dimulai dan dilakukan soft launching oleh Walikota Sawahlunto Deri Asta, SH pada tanggal 21 Oktober 2018.

Turut menambah keseruan dan kemeriahan setiap jadwal Pasar Silo juga diisi berbagai aktivitas dari komunitas-komunitas yang tumbuh dan berkembang di Kota Sawahlunto seperti komunitas music, komunitas panahan, komunitas seni rupa dan lainnya. Kegiatan tersebut menambah nilai dan bagian atraksi yang bisa dinikmati oleh pengunjung seperti belajar memanah, bernyanyi serta belajar melukis.


Pasar Silo hadir menjadi tambahan alternative pilihan jika berwisata ke Kota Sawahlunto selain pilihan destinasi utama seperti Lobang Tambang Mbah Soero, Museum Goedang Ransum, Museum Kereta Api, Puncak Cemara, Kelok 16, Taman Satwa Kandi, Kebun Buah Kandi dan lainnya.


Komunitas Reptil

Congklak Raksasa (Permaian Anak Nagari)

Jajanan Tempo Dulu

Seru Seruan Alumni




Rabu, 14 November 2018

Pemenang Lomba Foto SISCa 2018


PEMENANG LOMBA FOTO DALAM RANGKA SAWAHLUNTO INTERNATIONAL SONGKET CARNIVAL (SISCa) 2018 

KATEGORI I : KARNAVAL SISCA 2018

JUARA I : YOGI BRIMA
JUARA II : ROBY SAPUTRA
JUARA III : ANDIKA PUTRA
JUARA FAVORIT : SEPTIAN MANDAMI
JUARA FAVORIT : BENTO FALSOS
JUARA FAVORIT : REZKY ROHENDI
JUARA FAVORIT : RAHMAT HIDAYAT
JUARA FAVORIT : RAFLER
JUARA FAVORIT : SULTAN ARDINAL IRADA
JUARA FAVORIT : NOVI SETYABUDI
JUARA FAVORIT : HARIO SUHENDRA
JUARA FAVORIT : VEBRIANA PUTRI
JUARA FAVORIT : NURLELY RAHMAH

KATEGORI II : DESTINASI WISATA KOTA SAWAHLUNTO

JUARA I : FRISKA MAYDINA VONI
JUARA II : FADLI FERIANDA
JUARA III : BENTO FALSOS
JUARA FAVORIT : JONDEL FIRISMAN Y
JUARA FAVORIT : DENI DAHNIEL
JUARA FAVORIT : YOGI BRIMA
JUARA FAVORIT : EKA SULASTRI
JUARA FAVORIT : DENI PUTRA
JUARA FAVORIT : DANIEL SAPUTRA
JUARA FAVORIT : INDIRA BUATA
JUARA FAVORIT : HENDRA NASRI
JUARA FAVORIT : NICO EKA PUTRA
JUARA FAVORIT : DEDIA RONI

TERTANDA
DEWAN JURI

CATATAN :

  • KEPUTUSAN JURI BERLAKU MUTLAK DAN TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT
  • HADIAH TERMASUK PAJAK-PAJAK YANG BERLAKU
  • DIHARAPKAN SELURUH PEMENANG HADIR PADA SAAT PEMBUKAAN FESTIVAL MULTIKULTURAL, MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 PUKUL 20.00 WIB S.D SELESAI UNTUK PENYERAHAN HADIAH SECARA SIMBOLIS DAN SERTIFIKAT PEMENANG OLEH WALIKOTA SAWAHLUNTO DAN JAJARAN
  • DIMOHONKAN AGAR PEMENANG MENYIAPKAN ASLI IDENTITAS DIRI (KTP/SIM/LAINNYA) DAN NOMOR REKENING BANK (DIUTAMAKAN BANK NAGARI)


UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SILAHKAN MENGHUBUNGI:
RIZA  0812 6721 504 (WA)
NOVI 0852 7893 9593 (WA)



“Gerakan Rang Mudo Minangkabau” (GERAMI)

“Gerakan Rang Mudo Minangkabau” (GERAMI)


Kegelisahan yang dikelola dengan baik dan terarah, diaplikasikan pada karya-karya nyata dan bermanfaat adalah sebuah instrumen jiwa yang dapat menjadi pemicu sebuah perubahan. Hal inilah yang dirasakan oleh beberapa Pandeka Minangkabau ketika melihat dinamika kehidupan dewasa ini, sebuah dinamika dan transisi dengan kemungkinan tergerusnya nilai dan norma lokal Minangkabau. Perubahan pola hidup, kebiasaan dan pendidikan keluarga yang dikhawatirkan akan memunculkan degradasi bahkan disrupsi moral dan mental generasi muda Minangkabau dari hakikat Ranah Bundo. Sebagaimana diketahui, bahwa SILEK adalah sebuah seni beladiri Minangkabau dengan falsafah yang dalam dan amat bermakna, jauh dari tujuan sebagai alat untuk berkelahi dan memenangkan perselisihan dengan lawan, kononlah untuk membunuh musuh. Para Pandeka Minangkabau bukanlah ahli-ahli beladiri yang akan melatih dan menempa fisik mereka sedemikian rupa agar mampu mematahkan balok, papan, menghancurkan batu bata atau hal-hal sejenis. Pandeka Minang adalah ahli-ahli beladiri yang menundukkan diri pada kodratnya sebagai manusia yang lemah dan pada Tuhannya yang maha kuat, sehingga SILEK hanyalah sebuah jalan pencapaian dan penemuan hakikat diri sebagai seorang manusia yang dhaif dan fana.

Adagium SILEK mengatakan “Lahia silek mancari kawan, bathin silek mancari Allah” pun adagium lain mengatakan “musuah indak dicari, batamu pantang diilakgan”. Dua adagium ini bermakna bahwa sekalipun seorang Pandeka Minangkabau dapat saja membunuh lawan dalam “diam” atau melumpuhkan dengan “sentuhan” (tanpa perlu menggunakan seluruh tenaga fisik dan menghentakkan lawan dengan telengas sehingga lawan tewas atau lumpuh karena pukulan dan hantaman keras) tetapi melumpuhkan dan membunuh nafsu hewani dan duniawi dalam diri sendiri adalah tujuan utama Pandeka-pandeka Minangkabau. Sebuah pantangan besar bagi seorang Pandeka untuk membiarkan diri dan jiwanya ditunggangi oleh nafsu hewani dan duniawi lalu dikendalikan untuk pemenuhan kepuasan hasrat yang tak diizinkan oleh syar’i. Sehingga SILEK diharapkan akan menjadi sebuah instrumen yang membantu mengantarkan Para Pandeka ini pada maqam Rububiyah, uluhiyah, bahkan asma’ wa shifat selain dari syara’ sebagai instrumen utama tentunya. Jika seorang pesilat Minangkabau menyerahkan dirinya untuk hanyut dalam gelombang nafsu hewani dan duniawi, tidaklah dia layak disebut sebagai seorang Pandeka. Parewa, seorang “pamakan masak matah”, itulah derajat yang akan mereka dapatkan. “Aku di dalam garak Allah” tidaklah akan mampu dicapai oleh Parewa. Sementara pemahaman terhadap adagium “Aku di dalam garak Allah” merupakan nilai diri dan jiwa seorang Pandeka. Demikian rumit dan kompleks sebenarnya makna SILEK dan PANDEKA.

Dewasa ini, cukup sulit untuk dapat menemukan anak sasian yang masih membenamkan dirinya dengan segala kesungguhan dalam sebuah penempaan tangan dingin seorang Tuo Silek, agar dapat menemukan makna dan hakikat SILEK dan PANDEKA. Pembiaran terhadap fenomena ini akan menggerus dan mencerabutkan SILEK dan PANDEKA dari Ranah Minangkabau. Berangkat dari hal inilah, setelah melalui berbagai diskusi dan pertemuan-pertemuan marathon meski harus dirintangi oleh jarak, waktu dan kesibukan yang berbeda akhirnya Cun Hendri, Thommi, Syukri, Yusuf Putra, Vohallen Akbar dan Dede Saputra yang berasal dari sasaran silek dan aliran yang berbeda, menyepakati bahwa harus ada sebuah gerakan yang lebih dari sekedar sebuah estafasi dan eksibisi SILEK saja. Adagium “Silek adalah silaturrahmi” ingin mereka gaungkan dengan lebih menggema tanpa harus menyuarakan keinginan mereka dalam diksi bernarasi, mensosialisasikan apa itu “Silek adalah silaturrahmi” dalam narasi penuh diksi terasa amat mustahil dan tidak efektif. Pilihan bernarasi tanpa diksi dirasa akan lebih mampu mengejawantahkan cita-cita besar ini. Langkah pertama yang diambil adalah dengan membentuk sebuah “Persaudaraan” dengan slogan “Berkarya dalam SILEK”. Gerakan Rang Mudo Minangkabau (GERAMI) demikian nama “Persaudaraan” yang baru saja dibentuk ini.

GERAMI, berusaha untuk mengembangkan dan mengkreasikan SILEK kedalam sebuah seni pertunjukan tanpa menghilangkan akar tradisi dan ruh aliran masing-masing. Cun Hendri yang berasal dari Sasaran Alang Ponggongan Bukittinggi, aliran Silek Tuo, Thommi dari Sasaran Harimau Minangkabau Luhak Agam, aliran Silek Harimau, Syukri dari Sasaran Pat Ban Bu, aliran Silek Luncua Sawahlunto, Yusuf Putra dari Sasaran Ganggang Sapadi, aliran Silek Tuo Bukittinggi, Vohallen Akbar dari Sasaran Mambang Sari Alam Bukittinggi, aliran Silek Tuo, Dede Saputra dari Sasaran Mambang Sari Alam Agam, adalah Pandeka-pandeka yang berjuang untuk dapat menisbikan cita-cita besar GERAMI, meski Bukittinggi, Agam dan Sawahlunto memisahkan mereka dalam kerangkeng aktifitas mereka masing-masing. “Sawahlunto Balega 2018” adalah debut GERAMI ketika “Persaudaraan” ini diminta menjadi pembuka event “Silek Art Festival” baru baru ini. Enam orang Pandeka dengan latar belakang berbeda, aliran silek berbeda bersatu dan menyatu dalam langkah, ilak, gelek dan tangkok yang mengundang decak kagum Tuo-tuo Silek, Pandeka-pandeka, Anak Sasian dari berbagai sasaran dan daerah yang berlainan serta penonton yang hadir.

Empat gerak dasar SILEK disuguhkan oleh Pandeka-pandeka ini dalam sebuah kemasan apik dan santun tanpa kehilangan “rono jo bigu” SILEK sama sekali. Para pandeka ini “malangkah jo kulimek, Mailak caliak kutiko, manggelek paindeh garik serta manangkok di dalam garak” dengan menghadirkan “kiek jo kiyak” aliran silek masing-masing. Japuk, jambo dan jangkau aliran masing-masing dimainkan, tangkok, makan dan kunci yang seharusnya mencecar sambungan tulang, urat darah ataupun otot lawan, susul menyusul dan menjadi “isi” dari “pancak”, yang ditampilkan oleh Pandeka-pandeka yang tergabung di dalam GERAMI, tentunya dengan tanpa menebarkan aroma permusuhan sama sekali apatah sebuah hawa pembunuhan, sebuah jawaban dan narasi tanpa diksi atas adagium “Silek adalah Silaturrahmi”. Berbagai kegiatan masih akan dirancang, dimatangkan dan disuguhkan oleh Pandeka-pandeka dari GERAMI ini untuk menyampaikan cita-cita besar mereka demi tetap membumikan SILEK dalam sanubari Anak Minang, sehingga SILEK tidaklah hanya menjadi sebuah seni bela diri tradisi Minangkabau yang tumbuh dan berkembang tetapi kehilangan ruhnya yang sejati.

Tabik untuk Pandeka-pandeka GERAMI, mentari esok pagi masih akan terbit dan menggarang bumi Sasaran Silek dan eksistensi Pandeka. Minangkabau menunggu “kiyak dan kiek” GERAMI untuk bernarasi lebih jauh lagi, Minangkabau menanti “sambuk jo kepoh” GERAMI atas serbuan modernisasi yang yang tak ayal akan mencerabutkan “Minangkabau” dari dada Anak Minang, Minangkabau mengharapkan “cuek jo antam” GERAMI untuk seluruh ketidaktahuan dan ketidakcintaan Anak Minang terhadap keluhuran makna dan hakikat Ranah Bundo. Tetaplah menjadi Pandeka-pandeka penjaga negeri. 

Salam Santun, Tedjakusuma, SH.

Lereng Marapi, 14 November 2018, 05.02 WIB.





Kamis, 23 November 2017

“Sawahlunto Multikultural Festival” 2017



“Sawahlunto Multikultural Festival”
Hari Jadi Kota Sawahlunto ke 129 tahun 2017
01 Desember 2017

Banyak hal yang dapat dilakukan di Kota Sawahlunto yang giat dengan berbagai daya dan upaya mencapai Visi Kota Wisata Tambang Berbudaya melalui Event Budaya baik Tingkat Nasional Maupun Internasional sebagai pendukung daya tarik objek Wisata yang mampu dilahirkan melalui transformasi dari sebuah kota bekas tambang yang lumpuh ekonominya menjadi sebuah Kota Tujuan Utama Pariwisata Sumatra Barat.
Hari Jadi Kota Sawahlunto diperingati pada tanggal 01 Desember setiap tahunnya, pada tahun 2017 ini adalah peringatan hari Jadi Kota Sawahlunto ke 129, dimana tepatnya tanggal 01 Desember 1888 lahirlah sebuah Kota penghasil batu bara terbaik di Asia yang mulai di ekspoitasi oleh Belanda yang dikomandoi oleh William de Greve sang penemu “mutiara hitam”

“Makan Bajamba” Makan bajamba dilangsungkan dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan, dan umumnya diikuti oleh lebih dari puluhan hingga ribuan orang yang kemudian dibagi dalam beberapa kelompok. Suatu kelompok biasanya terdiri dari 3 sampai 7 orang yang duduk melingkar, dan di setiap kelompok telah tersedia satu dulang yang di dalamnya terdapat sejumlah piring yang ditumpuk berisikan nasi dan berbagai macam lauk. Makan bajamba biasanya dibuka dengan berbagai kesenian Minang, kemudian diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hingga acara berbalas pantun (Pidato Adat). Makan bajamba tersebut adalah Icon puncak Peringatan Hari Jadi Kota Sawahlunto, dimana pada tanggal 1 Desember 2006 pernah mendapat rekor MURI dengan peserta terbanyak berjumlah 16.332 orang.

Berbagai kegiatan lainnya digelar di Kota Sawahlunto dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota tersebut seperti Multikural Event yang dilaksanakan pada tanggal 25 November s/d 1 Desember, Sejumlah Kelompok seni budaya multietnis Sawahlunto dan luar daerah memeriahkan panggung multikultural Event ini, yang akan digelar dibeberapa tempat pertunjukan yang strategis di Pusat Kota dan juga disebar di Empat Kecamatan yang ada di Kota Sawahlunto. Menurut Kepala Seksi Ekonomi Kreatif dan Kegiatan Kepariwisataan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahragga Kota Sawahlunto, Syukri, S.Sn, kelompok seni multietnis yang akan tampil di panggung Multikultural Event ini adalah Kesenian tradisional dari 10 Kenagarian yang ada di Kota Sawahlunto, Group Sanggar Seni dan sekolah, kelompok kesenian dari Paguyuban Etnis seperti Paguyuban Batak, Paguyuban Jawa, Paguyuban Sunda, Etnis Tionghoa dan juga Paguyuban Etnis Minang tentunya. Selain itu juga dilaksanakan kegiatan yang bersifat lomba dalam rangka melestarian kesenian daerah seperti Lomba Festival Lagu Minang Tingkat Umum se- Sumatra Barat dengan tajuk “Sawahlunto Punyo Carito” dengan total Hadiah 36 Juta Rupiah. 

            Dari luar daerah akan tampil Group Seni dari Sanggar Seni Ragam Budaya Tanggerang Selatan dan The Pakwa Akustik dari Aceh. Orkestra Mahasiswa Jurusan Musik, Flam Perkusi dan Ethnic Percussion dari ISI Padangpanjang serta kelompok musik dari daerah tetangga. Untuk pembukaan multikultural akan tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 25 November 2017 di Garase PT. Ba mulai pukul 20.00 Wib akan dimeriahkan oleh Artist Lawak Nasional asal Kota Pariaman yang lebih akrab disapa dengan panggilan “Ajo Buset” serta kelompok musik Sawahlunto New Ensemble dan juga Kelompok musik dari Kota Padangpanjang. Untuk menunjang kegiatan tersebut juga akan dilaksanakan Sawahlunto Expo guna mengakomodir pelaku ekonomi kreatif dan UKM yang tumbuh di Kota Sawahlunto dengan tujuan utama peningkatan ekonomi kerakyatan.

            Untuk malam puncak Hiburan Rakyat akan ditampilkan “Utopia Band” serta Local Band Sawahlunto yang akan digelar pada tanggal 2 Desember 2017 pukul 20.00 Wib di Lapangan Bola Kaki PT.BA Ombilin Kota Sawahlunto. 

            Selain kegiatan hiburan dan seni budaya, kegiatan yang bersifat hobi dan olahragapun yang tercakup dalam Komunitas Sport Tourism disuguhkan pada perhelatan akbar ini yang di prakarsai oleh SKPD Sawahlunto dan kelompok- kelompok serta komunitas yang ada. Sebut saja Sawahlunto Trail Adventure, Sawahlunto Night Run, Sawahlunto Paradigling Competition, Sawahlunto Mountain Bike, Sepak Bola Wisata, Fun Fly Paradigling, Tabligh Akbar, Sawahlunto Bina Raga dan Body Contes, Festival Burung Berkicau dan Sawahlunto Fun Dog Race, Pacu Jawi dan Sawahlunto Derby.

            Kegiatan Peringatan hari Jadi Kota Sawhlunto ke 129 tahun 2017  ini memang diharapkan dapat mendorong perkembangan Kota Sawahlunto sebagai kota wisata sejarah dan budaya, dan terciptanya multiplayer effect perekonomian dari pelaksanaan event tersebut seperti di bidang Akomodasi, rumah makan, pedagang jajanan pasar, sektor transportasi, souvenirshop dan lainnya serta akan berdampak juga terhadap perkembangan seni budaya Multietnis, masyarakat Kota Sawahlunto sebagai pendukung kebudayaan tersebut.

            Dampak lain yang diharapkan adalah semakin dikenali dan diminatinya Sawahlunto sebagai Kota Tujuan Utama Pariwisata di Sumatra Barat dan semakin menguatkan eksistensi Sawahlunto sebagai Kota Warisan Nasional menuju warisan dunia yang diakui UNESCO.






Minggu, 18 Juni 2017

Sawahlunto hadirkan Atraksi Kesenian bertajuk Pesona Idul Fitri

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto terus menggeliatkan Sawahlunto sebagai Kota Event yang bertunjuan untuk mendukung Kota Arang ini menjadi kota Destinasi Utama Pariwisata di Sumatra Barat. hal ini diwujudkan salah satunya dengan rangkaian agenda Pentas Seni dalam rangka Hiburan Lebaran yang akan dilaksanakan di lokasi-lokasi strategis di Kota ini.

Selain menghibur Wisatawan yang berkunjung ke Kota Sawahlunto, kegiatan ini juga bertujuan untuk menghibur para perantau yang sedang melaksanakan kegiatan Mudik Lebaran di Kampung halaman mereka.

Pesona Idul Fitri di Kota Sawahlunto akan dimulai pada tanggal 24 Juni 2017 di Lapangan Segitiga hingga tanggal 1 Juli 2017. perwakilan kesenian multietnis akan ditampilkan mulai pada pukul 16.00 WIB s/d 23.00 WIB.




Rabu, 07 Juni 2017

Dukung SISCa di Ajang Anugrah Pesona Indonesia 2017






Sawahlunto kembali terpilih sebagai salah nominasi pada ajang Anugrah Pesona Indonesia (API) 2017. Dimana pada tahun 2016 Sawahlunto terpilih masuk nominasi pada kategori Situs sejarah Terpopuler yaitu Museum Kereta Api Sawahlunto, pada kesempatan itu mendapat peringkat Harapan I. Untuk tahun 2017 Kota Sawahlunto masuk nominasi pada Kategori Festival Pariwisata Terpopuler. Festival tersebut adalah Sawahlunto Internasional Songket Carnival lebih dikenal dengan singkatan SISCa.

Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017 memasuki tahun kedua mengajak masyarakat untuk memilih nominasi destinasi terbaik Indonesia. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kementerian Pariwisata RI dan laman www.ayojalanjalan.com. Penyelenggara juga melibatkan berbagai pihak dalam bidang pariwisata, seperti asosiasi pariwisata, jurnalis pariwisata, blogger, pelaku pariwisata bahkan dari Kementerian Pariwisata.

Dalam ajang ini ada 15 kategori yang dilombakanyang dipilih dengan melibatkan beberapa unsur mulai dari jurnalis, asosiasi pariwisata, blogger, hingga pengamat dan pihak Kempar sendiri. Seluruh kategori adalah hasil seleksi ketat dari data wisata, kuliner, atraksi wisata maupun festival budaya yang selama ini sangat populer di Indonesia. Khusus edisi 2017, kategori baru yang ditambahkan adalah Kampung Adat Terpopuler (Most Popular Traditional Village), Minuman Tradisional Terpopuler (Most Popular Traditional Drink), Obyek Wisata Belanja Terpopuler (Most Popular Shopping Spot), Obyek Wisata Unik Terpopuler (Most Popular Unique Tourism Spot), dan Promosi Pariwisata Digital Terpopuler (Most Popular Tourism Digital Promotion).

Melalui media ini, Kepala Dinas Pariwisata Pemudadan Olahraga Kota Sawahlunto, Efriyanto, S.Sos., MM, mengajak seluruh unsur lapisan masyarakat Kota Sawahlunto khususnya dan Sumatra Barat umumnya untuk berpartisipasi aktif dalam rangka mendukung kegiatan ini sehingga nantinya Sawahlunto bisa mendapat peringkat terbaik ditingkat Nasional, hal ini akan berdampak positif terhadap promosi dan perkembangan Pariwisata Sumatra Barat. 

Pemungutan suara sudah dibuka, masyarakat dipersilakan memberikan suara melalui 2 cara yang tersedia : 1. Memberikan vote dengan cara:
1. klik link http://ayojalanjalan.com/…/i…/festival-pariwisata-terpopuler
  - masukan alamat email anda
  - pilih daftar nominasi : I. Int' Songket Carnival-Kota Sawahlunto
  - klik "vote"
2. Ketik API 8I kirim sms ke 99386

Periode voting 1 Juni - 31 Oktober 2017

Salam Pesona Indonesia!








Selasa, 27 Januari 2015

Entrance Fee Sawahlunto Tourism Object

Harga Tiket Objek Wisata Kota Sawahlunto

SELAMAT MENIKMATI

SAWAHLUNTO SPIRIT OF WEST SUMATRA



Kamis, 09 Mei 2013

Museum Geodang Ransum

Gerbang Museum
Sebuah prestasi dan kebanggaan dapat kita saksikan disini, dimana pemanfaatan kemajuan teknologi, memasak dalam skala besar dengan teknologi uap panas sudah hadir di Sawahlunto sejak awal abad ke-20, bahkan yang pertama di Indonesia masa itu. Hal ini dapat dilihat dari setiap bagian bangunan dan peralatan yang digunakan.
Disini tidak hanya terdapat dapur tempat memasak, juga terdapat beberapa bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda, namun merupakan satu kesatuan utuh yang saling mendukung satu sama lain. Diantara  bangunan-bangunan tersebut adalah: Bangunan utama (Dapur Umum), gudang besar (warehouse) persediaan bahan mentah dan padi, Steam generator (Tungku Pembakaran) buatan Jerman tahun 1894 yang dibuat oleh ROHRENDAMPFKESSELFABRIK D.R PATENTE. NO.13449 & 42321 berjumlah 2 buah, Menara cerobong asap,  pabrik es batangan, hospital, kantor koperasi tambang batubara Ombilin, Heuler (penggilingan padi), rumah kepala ransum, rumah karyawan, pos penjaga, rumah jagal hewan, hunian kepala rumah potong hewan.
Catatan sejarah menunjukkan Dapur Umum memasak rata-rata 65 pikul beras setiap harinya. Selain itu juga memasak dan menyediakan makanan ringan seperti lepek-lepek bagi pekerja tambang, bubur bagi pasien Rumah Sakit Ombilin. Dengan demikian dapat dipastikan Dapur Umum melayani kebutuhan makan ribuan orang. Karena itu pula peralatan masak yang tersedia dalam ukuran serba besar. Dapat kita bayangkan betapa besarnya periuk pemasak nasi dan sayur dengan diameter 124 cm hingga mencapai 148 cm, badan beriuk setinggi 60 cm hingga 70 cm dan tebal 1,2 cm.
Pada masa dahulunya Dapur Umum itu berfungsi sebagai tempat melayani kebutuhan makan para:
  1. 1.    Orang hukuman, lebih dikenal sebagai orang rantai
  2. 2.    Karyawan Tambang yang belum berkeluarga (bujangan) terutama
  3.         mereka yang didatangkan jauh dari Belanda (Nederlands).
  4. 3.    Buruh tambang yang sudah bekeluarga.
  5. 4.    Pekerja dan pasien rumah Sakit Ombilin.
Harga tiket Museum
Sejak tahun 1945 Dapur Umum tidak efektif lagi memasak untuk kebutuhan pegawai tambang, tapi lebih diutamakan untuk kebutuhan tentara. Pada tahun 1945 di gunakan untuk memasak makanan untuk TKRI. Pada tahun 1948 Dapur Umum ini di pergunakan untuk memasak makan untuk kebutuhan tentara Belanda (Kenil) dan tahun 1950 setelah kemerdekaan RI sampai sekarang Dapur Umum tidak lagi di gunakan sebagai tempat memasak. Berbagai perubahan fungsi telah dilalui seperti; periode tahun 1950  1960-an bekas Dapur Umum  difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan administrasi bagi perusahaan Tambang Batubara Ombilin. Masyarakat menyebutnya sebagai tempat pengetikan. Periode dahun 1960 - 1970-an bekas Dapur Umum dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan formal setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ombilin.
Periode Tahun 1970  1980-an bekas Dapur Umum difungsikan  sebagai hunian para karyawan tambang Ombilin hingga tahun 1980-an. Periode tahun 1980-an sampai tahun 2004 masih sebagai hunian karyawan perusahaan, tapi sebagian bangunan juga ditempati masyarakat yang mendapat izin tinggal oleh perusahaan. Keadaan seperti ini berlangsung hingga awal tahun 2005.
Ruang pameran utama merupakan bekas ruang masak Dapur Umum. Disini dipamerkan benda-benda koleksi peralatan masak Dapur Umum. Peralatan masak yang serba besar dapat disaksikan disini dengan sistim masak uap panas dari steam generator yang unik.
Wisatawan juga dapat menyelami Sawahlunto tempo dulu melalui GALERI FOTO yang menyajikan berbagai tema. Disini melalui foto-foto wisatawan dapat memahami perjalanan panjang Sawahlunto dari masa ke masa.
Keragaman budaya tumbuh dengan suburnya di Kota Arang Sawahlunto. Hal itu terlihat dari berbagai atraksi seni dan budaya maupun perhelatan daerah. Tidak hanya budaya dan pakaian adat Minangkabau saja yang ada di Kota Sawahlunto, kebudayaan daerah lain seperti Jawa, Batak, dan Cina pun turut mewarnai keragaman budaya di Sawahlunto
Dengan adanya keragaman budaya inilah Sawahlunto dikenal dengan kota multi-etnis. Setiap nagari di Sawahlunto dalam bingkai budaya Minangkabau memberikan corak dan warna tersendiri dengan Adat Salingka Nagari-nya. Nagari Silungkang, Talawi, Kubang, Tak Boncah, Lumindai, Kolok, Lunto, Kajai, Talago Gunuang dan Sijantang misalnya, memberikan warna yang berbeda antara satu dengan yang lain. Apalagi kehadiran etnis lainnya seperti Jawa, Batak  maupun Cina yang  turut menambah khasanah keragaman seni budaya di kota Sawahlunto.
Keragaman etnis dan budaya di Kota Sawahlunto itu diwakili dengan kehadiran Galeri Etnografi Kota Sawahlunto. Lebih dari itu galeri etnografi menghadirkan berbagai benda peralatan hidup yang pernah digunakan masyarakat Kota Tambang Sawahlunto. Semua itu dapat disaksikan dalam kawasan Museum Goedang Ransoem kota Sawahlunto

Bangunan Utam Museum Goedang ransum




Radio Cimbuak.net