This is an example of a HTML caption with a link.

Selasa, 27 Januari 2015

Entrance Fee Sawahlunto Tourism Object

Harga Tiket Objek Wisata Kota Sawahlunto

SELAMAT MENIKMATI

SAWAHLUNTO SPIRIT OF WEST SUMATRA



Senin, 19 Januari 2015

Sawahlunto Bersepeda

Sepeda Kita “Aia Tajun Mudiak Lurah, Desa Oso Silungkang Kota Sawahlunto di jajal Antrachie Becycle Comunitie Sawahlunto.

Pose Pose dulu sebelum berangkat
Lokasi : Depan Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto
Sudah dua minggu lamanya tak gowes bersama, pagi ini (Minggu 18/01/15) kami bikin janji via Jejaring Facebook group Antranchite dan via SMS rutin yang selalu di layangkan Pak Junaidi Edison H-1 Gowes dengan tujuan yang belum pernah ditempuh anggota ABC sebelumnya, heheh tapi saya sebagai “Tukang Oyak” atau Provokator Rute Gowes Kali ini adalah kali yang ke tiga berkunjung ke lokasi ini.
                Emang lokasinya dimana sih coy???????,

hehehh sabar ndan, tuh baca aja judulnya, nah di situ tuh tujuannya. Kalau langsung ke lokasi kan gak jadi seru cerita gowes hari ini.

Pukul 06.00 wib jam yang ditetapkan untuk berkumpul di Check Point tepatnya depan Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto, tanda tanda cuaca cerah mulai tampak kebetulan semalam juga cuaca tak hujan. Di sela-sela masyarakat yang sekerdar jogging, berlari dan berjalan menuju arah kelapangan Segitiga Kota Sawahlunto yang mana dipakai sebagai lokasi pusat Senam Pagi setiap minggu pagi, tampak mulai muncul satu persatu para pendayung Sepeda (Emangnya mau Balapan, hehe) mulai mendekati lokasi berkumpul.

si Alief, goweser cilik
Setelah menunggu hampir setengah jam tepatnya pukul 07.30 Wib, telah berkumpul 14 orang goweser pentolan ABC, yang mana salah satu diantaranya goweser cilik kami si Alief ikut berpartisipasi pada gowes hari ini, sebenarnya masih ada beberapa stock pesepeda cilik kami yang aktif di Club ABC ini, mungkin ada keperluan berhubungan dengan sekolah hingga mereka taku bisa ikut bergabung kali ini. Total seluruh angota ABC yang terdaftar di sekretariat melebih 50 orang, tapi untuk kegiatan rutin jarang yang bisa hadir seluruhnya (jikalau ada yang masih mau gabung dengan ABC, Kami siap menanti.

Setelah melakukan sedikit narsis narsisan, kami sepakati untuk start mengayuh sepedanya. Dengan tempo yang tidak kencang, setiap kayuhan kami nikmati dengan indah karena acara ini bukan mencari hadiah siapa yang terkencang melainkan Fun Fun aja.  Setelah melewati daerah terminal terdengar bunyi detak detak yang bertingkah seakan akan ada irama yang musik yang dimainkan oleh para goweser. Tidak tidak mereka bukan sedang memainkan musik, tetapi sedang opor gigi ke gigi yang lebih tinggi agar kayuhan terasa ringan, karena beberapa saat lagi akan berjuang melawan tanjakan yang juga tidak terlalu berat di mulai dari sebuah tikungan yang akrab dipanggil “Kelok S” karena sepintas tikungan tersebut memang seperti lekukan huruf “S” yang berada dekat rumah kediaman Kota Sawahlunto.

Dihujung pendakian lebih tepatnya daerah Simpang Kubang, kawan kawan goweser ABC sudah tidak sama lagi jarak yang satu dengan kawan lain, jelas akan berbeda karena tempo kayuhan dan tenaga serta ketahan fisik masing masing pasti berbeda, ada yang berhenti sejenak sambil meneguk air mineral yang telah disiapkan dar rumah masing masing. Ada Pemandangan menarik yang memikat para pemakai area jalan raya melewati kawasan sekitar Simpang Kubang ini, baik pengendara dari Sawahlunto menuju Muaro Kalaban maupun sebaliknya, selain memikat mata aromanya pun memanggil untuk ditengok. Ya... seperti pasar dadakan yang ada pada musim musim tertentu daerah ini ramai di kunjungi, kebetulan saat in sedang musim durian yang hampir merata di seluruh Daerah Sawahlunto. Pandangan kamipun terpengaruh akan tetapi kaki tetap konsisten mengayuh ketempat tujuan, mungkin karna masih pagi sekali barangkali.

Narsis dulu di Muaro Kalaban - Silungkang
Sekitar 5 Km bergowes ria, sampailah disebuah simpang daerah Muaro Kalaban dimana jalan utama ini adalah jalan Lintas Sumatra yang dilintasi hampir semua kendaraan AKDP. Jikalau mengarah kekiri jalur tersebut menuju ke Daerah Sijunjung, kami melanjutkan ke arah kanan untuk menuju daerah Silungkang. Di seberang jalan Simpang Muaro kalaban, anggota ABC yang telah dipilih sebelumnya untuk menjadi Marshal dan tim Sapu Bersih kembali mengecek kecukupan anggota yang berjumlah 14 orang tadi, setelah cukup “gasssss” aba aba dari salah seorang anggota.

Kami bergerak bersama dengan santai kira kira kepcepatan 10 Km/jam dengan jarak masing masin sepeda sekitar 2 meter sehingga terbentuk lah barisan panjang kira2 20 s/d 30 meter, ini adalah siasat kami untuk mempromosikan Club serta secara tak langsung mengkampanyekan sehat bersepeda sekaligus mengajak gowes bareng bagi para pesepeda lainnya yang ditemui dijalanan. Bagi anak anak yang menyaksikan kami disepanjang jalan merasa gembira, nampak mereka melambaikan tangan kepada setiap anggota yang ABC yang lewat dan bersorak, mungkin mereka fikir ini adalah Event Tour de Singkarak yang selalu melewati jalur ini setitap tahunnya.

Depan Mesjid Silungkang
Kesempatan istirahat sejenakpun kami manfaatkan sesampainya di salah satu Mesjid menjelangAle Ale Apam“ bentuknya mirip Pan Cake yang berwarna warni terbuat dari kandi, hm.... bagi rekan2 yang lewat daerah ini jangan lupa coba ya...
masuk Pasar Silungkang, pastinya narsis narsisan lagi dengan Ponsel berkamera masing untuk diupload ke berbagai jejaring Sosial Media untuk mempromosikan Eksistensi Club ABC ini. Mesjid ini sering disinggahi oleh para pengendara baik roda dua maupun roda empat keatas, karena posisinya yang strategis serta mempunyai halaman parkir yang cukukp luas. Makanan yang terkenal disekita ini adalah “
Breafing kecil kami lakukan disini untuk membuat tambahan Rute perjalanan dikarenakan waktu baru menunjukan pukul 08.00 Wib sedangkan jarak tempuh hanya kira2 sekitar 5Km lagi dan dirasa sangat kepagian sampai di lokasi. Ketua tim mengarahkan untuk lanjut dulu ke daerah Kebun Jeruk, ini adalah daerah perbatasan antara Kota Sawahlunto dengan Kabupaten Solok. Selain gerbang perbatasan sebagai tanda, disamping kiri jalan di tepi tebing terdapat tulisan “SAWAHLUNTO” berwarna kuning terbuat dari seng plat dengan tinggi masing masing Letter/huruf diperkirakan 2M sedang lebar sekita 1 Meter. Moment ini kembali kami manfaatkan untuk mendokumentasikan gowes kali ini dengan latar belakang tulisan Sawahlunto tersebut, ini untuk membantu promosi daerah Coy.......

Setelah puas berfose serta langsung mengupdate ke jejaring sosial, setelah perjalanan dilanjutkan menuju Lokasi Air Terjun Mudiak Lurah, kami kembali memutar arah perjalan kembali ke arah Silungkang meninggalkan Batas Kota. Sampai di simpang Silungkang Oso belok kanan arah ke Puskemas, sepertinya warga Silungkang sudah siap jikalau daerahnya dijadikan sebagai Daerah Tujuan Wisata, hal ini terlihat dari cara mereka bertegur sapa kepada kami senyum ramah terpancar seakan akan mengatakan selamat datang di Kampung Kami. Di teras depan rumah warga kami lewati rata rata mereka mempunyai sebuah “Palantai” mesin tenun tradisional pembuat Songket. Tak salah lagi Silungkang memang sudah terkenal Produksi Songketnya sejak Zaman Kolonial Belanda, hingga kini penghasilan songket sudah bisa menjadi mata pencaharian pokok bagi penduduk Silungkang.
Oi.... promo promo potensi wisata aja..... gowesnya mana.....
Oh iya yah........ lanjut.
Jarak tempuh dari Simpang Silungkang Oso ke Air Terjun Mudiak Lurah diperkirakan sekitar 1 Km, dengan waktu gowes sekitar 15 menit, karena menjelang air terjun terdapat pendakian/tanjakan jalan yang lumayan licin dan berlumut, dapat di simpulkan jalan ini masih jarang dilalui warga apalagi para wisatawan. Untuk kelompok olah raga lutut atau dunia persepedaan bisa dipastikan baru Club ABC yang sampai ke Daerah ini.

Dipenghujung jalan Bandes yang telah di beton, salah seorang tim mencoba turun kebawah yang mana telah terdengan suara khas air terjun menimpa batu seakan akan memanggil manggil untuk lebih cepat mendekat dan merasakan nikmatnya mandi disana. Lambaian tangan tersebut menandakan silahkan turun bergantian, karna kita telah sampai di ujuan. Para penggowes ria pun tampak semangat memegang sepeda masing masing untuk di tuntun ke arah lokasi air terjun yang pastinya tidak bisa di gowes dan lumayan licin. Sempat juga dua orang tim kami terpeleset saat memapah sepeda mereka.

Nah disini enaknya..... ceritanya dilanjutkan dengan foto foto saja ya.... ada makan bajamba, ada mandi berenang, ada.. ada... saja.... selamat menikmati (Syukri, S.Sn)
jalan tanjakan yang licin, harus di tuntun coy....

menuju air terjun, penurunan yang belum ada jalan setapak, sepedanya di gendong


Pose di Depan Kantor Desa Siungkang Oso
Kecamantan Silungkang
Kota Sawahlunto
Sumatra Barat
Indonesia

Nasrsisnya si Malin Kayo

Makan Bajamba Jo Karupuak Jariang
Promo Sekre Dulu ah.....




Selasa, 14 Januari 2014

Pical Mbah Soero





Mie Pangsit Mangkok

Mie Pangsit Mangkok mempunyai cita rasa dan penampilan yang berbeda dengan mie pangsit biasa.Ayam yang dimasak dengan bumbu Pangsit ditambah sayur yang menguggah selera makan

Pada saat penyajiannya mie ini di lengkapi dengan kerupuk yang terbuat dari tepung terigu dengan memakai cetakannya mangkok,  sehingga kerupuk yang dihasilkan persis menyerupai sebuah mangkok. 



Es Tebak

Jajanan ini dapat dinikmati kapan pun karena jajanan seperti ini setiap hari ada di sediakan oleh pedagang dan es cendol ini sangat cocok disantap pada siang harisebagai pelepas dahaga, karena dalam penyajian nya ditambahkan dengan es.
Bahan yang harus disiapkan untuk hidangan ini adalah :
-          Tapai ubi
-          Agar
-          Cincau
-          Ketan Hitam yang dicampur jadi satu dengan santan kelapa yang sudah diberi gula pasir.


Jajanan ini dapat ditemui di Pasar Sawahlunto, cukup dengan berjalan sejauh 50 M kearah dalam pasar.



Lamang Tungkek


Tradisi yang turun temurun  yang  masih  di lakukan oleh masyarakat Talawi adalah membuat  lamang tungkek,Talawi adalah salah satu desa yang berada di kotaSawahlunto.
Bahan yang harus disiap kan adalah :

Tepung beras yang diolah dengan gula merah ditambah kan satan kelapa, dimasak dengan menggunakan wajan yang besar dengan menggunakan api yang berasal dari kayu bakar,Untuk pengolaha lamang  tungkek sangat membutuhkan tenaga yang  ekstra, Karena pengolahannya yang cukup lama sampai benar – benar siap untuk disajikan.


Tradisi Lamang Tungkek ini hanya dibuat satu kali dalam satu tahunya itu menjelang bulan puasa datang, atau tradisi menyambut Ramadhan, Model lamang tungkek pun sedikit aneh karena diikat dengan beberapa ikatan dengan menggunakan tali.



Radio Cimbuak.net