![]() |
Ruangan Pembangkit Listrik di Sawahlunto |
Pertumbuhan Infrastruktur di Kota Sawahlunto berkembang pesat yang dipicu setelah ditemukannya harta karun emas hitam di lembah soegar pada awal abad 19. Sejalan dengan itu untuk menggerakan menggerakan berbagai mesin dan teknologi pertambangan saat itu, maka pemerintah kolonial belanda membangun sebuah pembangkit listrik tenaga uap (central electrich) yang dibangun pada tahun 1894, yang mana sebagai bahan bakarnya adalah batu bara hasil pertambangan dari Perut bumi Sawahlunto di bantu dengan aliran sungai batang lunto yang berada dekat dari pembangkit tersebut.
Menurut buku Sawahlunto: Dulu, Kini, dan Esok yang ditulis
Wannofri Samry dkk (2005), pada saat didirikan, Central Electrich ini
tercatat sebagai pembangkit listrik terbesar di Sumatera. Daya listrik
yang dapat dihasilkan alat ini adalah 20.000 megawatt hoog spaning. Bangunan itu dibangun para teknolog kolonial yang handal dan
dikonstruksi dengan begitu terencana. Alat-alatnya, seperti besi, semen
putih dan generatornya, didatangkan dari Jerman.
Mesin ini bekerja dengan menggunakan air Batang Lunto yang yang
mengalir di samping bangunan. Air dialirkan dengan pipa-pipa besi ke
dalam ruang bawah tanah di mana terdapat dapur (kitchen) berupa tangki
untuk pemanasan agar memproduksi uap. Pemanasan dilakukan dengan
membakar batubara. Sedangkan Sisa pembakaran dikeluarkan melalui
cerobong asap dari semen setinggi 70 meter.
Sesuai dengan judul yang diangkat tim Palanta Budaya pada kolom Jadoel edisi ke 5 ini adalah "Pembangkit Listrik Sawahlunto" berasal dari koleksi foto oleh halaman KITLV dengan judul asli "Ketelhuis in de elektrische centrale te Doerian bij Sawahloento", penulis mencoba menghubung kan foto yang di buat pada sekitar tahun 1915 dengan sejarah Masjid Nurul Agung yang dahulunya adalah bekas PLTU. Belum ada data valid tentang foto tersebut apakah peralatan pembangkit listrik tersebut adalah bagian dari peralatan pembangkit yang dulu nya berada di PLTU.
Untuk sementara Penulis mempunyai dugaan yang kuat bahwa foto tersebut adalah PLTU yang berada di Mesjid Nurul Agung yang berlokasi di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara Kecamatan Lembah Segar, karna arti dari Judul foto tersebut adalah "Boiler kamar di pembangkit listrik ke Durian di Sawahloento" yang menyatakan posisi pembangkit tersebut di daerah Sawahlunto untuk mengalirkan listrik ke daerah Durian yang masa itu juga jadi pusat pertambangan dan pemukiman masyarakat buru tambang.
Demikian lah yang dapat kami sajikan pada edisi ini, mungkin ada kritik dan saran guna memperbaik tulisan dan data dari kami, sehingga menjadi pengayaan bagi perkembangan Sejarah Kota Tua Sawahlunto
rujukan
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Nurul_Islam
http://www.padangkini.com/index.php?mod=wisata&id=3783
1 Responses So Far:
masih jadul banget gan..
Posting Komentar